loading…
irektur Eksekutif Departemen Komunikasi Bankindonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa gejolak yang dialami Kurs Matauang Garuda erat kaitannya Di arah Aturan moneter Pengatur Moneter AS, The Fed. Foto/Dok
Sebagai catatan, Di pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Ke pertengahan Juni lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga Ke level 3,5% hingga 3,75%. Akan Tetapi kepanikan pasar dipicu Di munculnya sinyal kuat Di sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan bahwa suku bunga acuan masih Berpotensi Sebagai naik Hingga Didepan.
Kebugaran tersebut memicu penguatan indeks Usd AS (DXY) secara drastis hingga mematahkan Catatan tertinggi Di satu tahun terakhir. Jika Ke Januari 2026 indeks DXY masih nangkring Ke level 95, maka Ke akhir Juni posisinya melonjak Hingga level 101.
Baca Juga: Idr Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Usd AS
“Karena Itu, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti Di naiknya DXY Ke level tertinggi Di satu tahun terakhir inilah yang membuat Kurs Mata Uang sejumlah Negeri itu melemah Di US dollar,” kata Denny Di ditemui Ke Kompleks Dewan, Selasa (7/7/2026).
Adapun Ke penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), nilai uang Idr berhasil berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08% Hingga posisi Rp17.950 per Usd AS. Meski demikian, secara pergerakan harian (intraday), Kurs Matauang AS tersebut sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.009 Ke Disekitar pukul 14.12 WIB.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Bankindonesia Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Idr yang Sempat Rp18 Ribu per Usd AS











