Semarang –
Lebih Di 35 tahun, bolang-baling ini dijajakan pasangan Juminten dan Rebo Hingga Semarang. Metode masaknya Malahan masih pakai api kayu bakar!
Sepintas tak ada yang berbeda Di Jalan Citarum Selatan IV, Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Akan Tetapi begitu azan magrib berkumandang, anak-anak mengantre Hingga salah satu Rumah Sebagai membeli bolang-boling, kudapan Di tepung yang biasa dijual bersama cakwe.
Aroma kayu bakar langsung menyambut begitu memasuki sebuah Rumah sederhana berwarna oranye milik Juminten dan Rebo itu. Untuk sebuah ruangan berdinding bata yang mulai menghitam Lantaran jelaga, sepasang lansia sibuk mengolah adonan bolang-baling.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga bawah remang lampu bohlam, Juminten berdiri Hingga Didepan wajan raksasa yang ditopang tungku berbahan bakar kayu. Kobaran api berwarna jingga menyala Di bawah tungku, Sambil Itu adonan bolang-baling mengembang dan berubah keemasan Hingga Untuk Energi panas.
Rambut putih Juminten Lebih terlihat jelas Hingga bawah cahaya lampu. Punggungnya yang bungkuk Melakukanlangkah-Langkah menopang tubuh Juminten yang tangannya terus membolak-balik adonan bolang-baling.
Hingga sampingnya, sang suami tampak menguleni adonan Hingga atas Tatakan kayu besar yang sudah dipenuhi taburan tepung. Tangannya lincah memotong adonan menjadi ukuran kecil Sebelumnya diserahkan kepada Juminten Sebagai digoreng.
|
Juminten (67) dan Rebo (69), pasangan lansia yang menjual bolang-baling pakai kayu bakar Hingga Jalan Citarum Selatan IV, Bugangan, Semarang Timur, Kota Semarang, Kamis (9/7/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
|
Beberapa pembeli terlihat masuk hingga Hingga Dibagian dapur Sebagai menunggu bolang-baling yang Terbaru diangkat Di penggorengan. Mereka sesekali berbincang Di Juminten sembari menunggu pesanan selesai.
Perempuan asal Solo itu mengaku sudah 35 tahun berjualan bolang-baling Hingga lokasi tersebut. Malahan, usaha itu sebenarnya sudah dimulai lebih dulu Di kakak perempuannya.
“Sudah 35 tahun ini jualannya bolang-baling. Ini meneruskan resep Di Mbak Yu,” kata Juminten Pada ditemui detikJateng Hingga rumahnya, Kamis (9/7/2026) petang.
Meski zaman berubah dan banyak pedagang beralih Hingga kompor gas, Juminten tetap memilih memasak menggunakan kayu bakar. Kendati demikian, ia mengaku sempat mencoba memasak menggunakan kompor gas.
“Dulu sempat pakai kompor. Tapi sekarang pakai kayu bakar. Saya nggak berani pakai gas, wong bukan Rumah sendiri, takut kalau ada apa-apa. Sekarang gas juga sudah mahal sekali,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan kayu bakar juga sudah menjadi Dibagian Di cara memasak yang diwariskan Sebelum dulu. Dulu, ia kerap ikut membantu kakaknya berjualan sambil menghitung pemasukan.
“Dulu ketemu Mbah Kakung juga Hingga sini. Mbah Kakung yang nguleni, saya yang menghitung. Terus dicocok-cocokin, akhirnya Di Sebab Itu,” ucap Juminten sambil bercanda.
Setiap hari, Karya Juminten dan Rebo dimulai Disekitar pukul 15.00 WIB. Adonan diuleni, dipotong, lalu digoreng hingga Disekitar pukul 19.00 WIB Sebelumnya akhirnya dijual kepada pelanggan.
Untuk sekali produksi, ia menghabiskan Disekitar 25 kilogram tepung terigu yang cukup Sebagai tiga hari. Tepung yang digunakan pun tetap sama Sebelum dulu, yakni tepung Cakra.
“Harga tepungnya sudah naik. Satu karung isi 25 kilogram sekarang harganya Rp 220 ribu, Sebelumnya Itu Rp 210 ribu. Tapi harganya nggak naik, nggak tega. Pedagang kan sukanya nggak tega,” ujarnya.
Bolang-baling yang dijualnya sendiri dihargai Rp 10 ribu per 15 bolang-baling. Jika hanya membeli Rp 5 ribu, kadang Juminten Memberi 8 biji. Juminten pun bersyukur pembelinya masih ramai meski sudah puluhan tahun berjualan.
“Kadang yang beli umpek-umpekan, soalnya tempatnya kecil,” tuturnya.
Bolang-baling dijajakan bersama cakwe. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Jika dagangan belum habis, Rebo Berencana berkeliling hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Sebagai menjajakan bolang-baling. Kini, Lantaran faktor usia, mereka hanya melayani pembeli yang datang Hingga Rumah.
“Sekarang Hingga Rumah aja, kalau nggak habis sama Mbah Kakung dijual keliling Hingga pelabuhan. Dulu ya memang kelilingnya Hingga sana,” terangnya.
Hingga balik dapur sederhana Di tungku kayu yang terus menyala, Juminten tetap setia menjaga rasa bolang-baling yang telah menemani warga Disekitar Pada lebih Di tiga dekade.
“Kalau Di Mbak Yu saya ya ada 35 tahun lebih, wong Mbak Yu saya meninggal umur 54 tahun, saya juga sudah jualan Hingga sini. Kalau maunya saya ya sudah nggak jualan, sudah umur segini,” ungkapnya.
Hingga pukul 19.00 WIB, pembeli masih keluar masuk membeli bolang-baling dan cakwe. Biasanya, Juminten dan Rebo bar tutup lapak Disekitar pukul 20.00 WIB. Mereka Berencana tidur Hingga atas kasur yang disediakan Hingga sudut ruangan mereka menjual bolang-baling tersebut.
Salah satu pembeli asal Pedurungan, Dila (28), mengatakan Terbaru pertama kali membeli bolang-baling Hingga tempat Juminten. Ia mengaku Terbaru mengetahuinya Di media sosial.
“Kan lagi ramai Hingga medsos yang bolang-baling pakai tungku, terus nyoba Hingga sini. Ternyata murah sekali dibanding tempat lain,” ucapnya.
“Hingga Pasar Peterongan itu aku beli satu harganya Rp 1.500, Hingga sini walau bentuknya lebih kecil sedikit tapi dapatnya banyak. Rp 10 ribu dapat 15,” lanjutnya.
Artikel ini sudah tayang Hingga detikjateng Di judul “Bolang-Baling Legendaris Bugangan Semarang, 35 Tahun Setia Pakai Resep Kakak“
(adr/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Bertahan 35 Tahun, Bolang-baling Semarang Masih Dimasak Pakai Kayu Bakar












