Tahukah traveler, ada sebuah kampung Ke Jakarta yang warganya Memiliki garis keturunan Portugis dan Memiliki komunitas yang solid. Malahan kita masih bisa melihat peninggalan masa Portugis yaitu sebuah gereja yang masih berdiri kokoh.
Konon, nama Tugu ini berasal Untuk batu tertulis Prasasti Tugu, peninggalan Untuk Kerajaan Tarumanegara. Sekarang prasasti ini berada Ke Museum Nasional. Ada juga yang menyebutkan Tugu itu berasal Untuk penyebutan ‘Por-Tugu-Ese’ yang merujuk Ke komunitas Portugis Ke Daerah tersebut.
“Orang Tugu itu tahun 1661 itu sudah berada Ke sini, Sebab dulu kita awalnya dijajah Portugis Sebelumnya Belanda masuk. Setelahnya dijajah Belanda, banyak hal berubah, termasuk Kearifan Lokal Global, nama dan agama,” kata Alfondo Andries, salah satu warga Kampung Tugu, yang juga penggiat Bunyi Keroncong dan pernah menjadi ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) kepada detikTravel, Minggu (21/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, dulu warga Tugu beragama Katolik. Tetapi Setelahnya dijajah Belanda mereka dijadikan beragama Protestan. Juga penamaan warga dan keturunannya harus ada unsur-unsur Belanda-nya.
|
Gereja Tugu Ke Kampung Tugu, Jakarta Utara Foto: (Syanti Mustika/detikcom)
|
Mempertahankan nama yang Dari Sebab Itu ciri khas, marga, Citarasa, hingga Kearifan Lokal terus dilakukan warga. Dari Sebab Itu tidak heran, jika Kampung Tugu Memiliki dokumentasi hingga peninggalan sejarah yang masih lengkap dan diakui secara internasional.
“Kampung Tugu ini ditetapkan Asian Portuguese Community sebagai destinasi sejarah yang lengkap. Kenapa dibilang lengkap? Orangnya ada, nih ada komunitasnya. Peninggalannya ada, tuh ada gereja. Kearifan Lokal Global kita juga ada, mulai Mande-mande, Rabo-rabo. Seninya ada, yaitu keroncong, tarian,” tambah Alfondo.
Hidup Ke era modern, Kampung Tugu terus Menyesuaikan dan mempertahankan budayanya yang diwarisi turun temurun. Terdapat beberapa marga utama Ke Kampung Tugu yaitu, Michiels, Andries, Abrahams, Quiko Bacca, Simon, Braune, Salomons dan Cornelis.
“Marga ini sebagai ciri khas kita. Identitas kita,” lanjutnya.
Bahasa Kreol, bahasa warga Tugu
Alih-alih menggunakan bahasa Portugis murni, warga Tugu dahulunya memakai bahasa Kreol, perpaduan Portugis dan Melayu. Hingga Pada ini, beberapa kosakata Kreol masih digunakan, termasuk Untuk lirik Bunyi Keroncong.
“Orang Tugu masih pakai, cuma sedikit. Misalnya tata Bagi kakek, cici Bagi kakak perempuan, atau mina Bagi anak perempuan. Lagu-lagunya (Keroncong) pun banyak pakai bahasa Kreol,” tambah Alfondo.
Tetapi sekarang keseharian, warga Tugu sama seperti warga Jakarta Ke umumnya, memakai bahasa Indonesia dan lekat Bersama Kearifan Lokal Global Betawi.
Alfondo Andries, salah satu warga Kampung Tugu Foto: (Syanti Mustika/detikcom) |
Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT)
Warga Tugu bersatu Untuk sebuah komunitas besar bernama Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT). Komunitas yang terbentuk Dari tahun 1976 ini bertujuan bahu-membahu menjaga dan melestarikan Kampung Tugu.
Hingga Pada ini lebih 500 orang yang tergabung Untuk IKBT.
“IKBT selalu menjaga Kearifan Lokal Ke Kampung Tugu, yaitu Kearifan Lokal rabo-rabo dan Kearifan Lokal mandi-mandi yang selalu dilaksanakan setiap tahun Mutakhir dan satu minggu Setelahnya tahun Mutakhir. Ke situ, Ke Kegiatan adat itu, warga IKBT berkumpul bersama Bagi merayakan Kearifan Lokal yang ada Ke Kampung Tugu,” kata Rensyi Michiels, Ketua IKBT.
Rensyi menambahkan, Pada ini IKBT Untuk Menyusun Festvial Kampung Tugu yang Akansegera digelar Agustus 2026 mendatang.
Gereja Tugu, simbol dan pusat kegiatan warga Tugu
Pemukiman Kampung Tugu berada Ke Jalan Raya Tugu, Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Dan Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) Memiliki sekretariat Ke kawasan Gereja Tugu.
Ke sinilah biasanya warga berkumpul, merembukkan Kegiatan hingga berkumpul. Dari Sebab Itu Gereja Tugu Bagi warga Tugu tidak hanya sebagai tempat beribadah saja, Tetapi Dari Sebab Itu pusat kegiatan Kearifan Lokal Global.
Setiap tanggal 1 Januari, warga Tugu selalu melakukan Kearifan Lokal Rabo-rabo Ke Gereja Tugu. Setelahnya ibadah misa, warga bersama rombongan pemusik Keroncong Akansegera Melakukan Kunjungan Di Rumah warga satu per satu Bagi bersalaman Bersama pemilik Rumah.
Warga Kampung Tugu, Jakarta Utara, menjalani Kearifan Lokal Rabo-rabo Pada perayaan Tahun Mutakhir, Kamis (1/1/2026). Kearifan Lokal turun-temurun ini kembali digelar sebagai bentuk silaturahmi dan pelestarian Kearifan Lokal Global yang telah diwariskan Dari ratusan tahun lalu. Foto: Muhammad Reevanza/detikfoto |
Satu minggu Setelahnya Rabo-rabo, warga Melakukan Mandi-mandi, atau warga Tugu menyebutnya ‘mandi bedak’. Ke momen ini warga Akansegera saling maaf-memaafkan, berkumpul, dan menari bersama Ke halaman Gereja Tugu.
Gereja Tugu dibangun Ke kurun waktu 1744-1747 Dari Justinus Vink Bagi komunitas Mardijkers (budak yang dimerdekakan) keturunan Portugis Ke Batavia. Gereja ini menjadi gereja tertua nomor dua Ke Jakarta, Ke mana yang paling tua adalah Gereja Sion (dikenal juga sebagai Portugeesche Buitenkerk), yang dibangun Ke tahun 1693-1695.
Gereja Tugu Ke Kampung Tugu, Jakarta Utara Foto: (Syanti Mustika/detikcom) |
Gereja Tugu juga terdaftar sebagai cagar Kearifan Lokal Global Dari tahun 1993. Dikutip Untuk website Kemendikdasmen, Ke masa pemerintahan Gustaaff Baron van Imhoff, pembangunan gereja ini sebagai pengganti gereja yang hancur Ke tahun 1740 Untuk peristiwa pemberontakan Cina Ke Batavia. Arsitektur bangunan Gereja Tugu adalah gaya Dutch Closed.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Video: H+1 Lebaran, Ancol Diserbu 35 Ribu Wisatawan hingga Siang Ini“
(sym/ddn)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Menelusuri Kepingan Peninggalan Portugis Ke Utara Jakarta














