loading…
Mampukah dunia Kehidupan Damai usai kehilangan 9% pasokan Migas bumi Pada Pertempuran Di Timur Di berujung Ke penutupan Selat Hormuz Pada tiga bulan terakhir. Foto/Dok
Fakta ini dibongkar Di Skuat strategi Migas raksasa keuangan Dunia, JPMorgan yang dipimpin Di Natasha Kaneva, Lyuba Savinova, dan Artem Fakhretdinov Sesudah melakukan rangkaian pertemuan intensif Di para pelaku pasar Di China.
“Kesimpulan paling mencolok Di pertemuan kami bukanlah sekadar fakta bahwa permintaan Migas telah turun,” tulis para pakar strategi JPMorgan Di nota rahasia kepada klien mereka.
Baca Juga: IMF, Lembaga Keuangan Internasional, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM Di Didepan Mata
“Tetapi bahwa permintaan itu telah merosot hingga 9% atau setara 1,5 juta barel per hari-secara mendadak atau tidak terduga, Tetapi Di sangat sedikit gangguan yang terlihat Di Komunitas,” bebernya.
Harga Migas dunia Pada ini memang relatif bertahan Di kisaran USD100 per barel dan hanya sesekali melonjak. Hal ini bisa terjadi Sebab dunia memasuki tahun 2026 Di Kepuasan pasokan yang melimpah (oversupplied), ditambah Unjuk Rasa pemerintah berbagai Negeri yang kompak menguras cadangan Migas darurat mereka Bagi meredam guncangan pasar.
Tetapi Kunci utama Di keajaiban ekonomi ini adalah sebuah istilah psikologi pasar yang disebut Demand Destruction (Kehancuran Permintaan). Sederhananya, ketika harga Produk Internasional sudah terlampau mahal, konsumen Berencana berhenti membeli secara sukarela.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Pasokan Migas Dunia Lenyap 1,5 Juta Barel per Hari, Pasar Energi Bakal Terguncang?











