loading…
Akselerasi Pembaruan ekosistem Sepeda Listrik (electric vehicle/EV) Ke Indonesia diperkirakan Berjuang Didalam ujian berat Di awal 2026. Foto/Dok
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M. Kholid Syeirazi menilai, situasi tersebut berisiko menekan penjualan Sepeda Listrik ditingkat ritel. Menurutnya, beberapa stimulus utama resmi berakhir tahun ini.
“Mulai Didalam pembebasan bea masuk Kendaraan Pribadi Elektrik berbasis baterai Pembelian Barang Didalam Luar Negeri utuh hingga skema Retribusi Negara pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 10%,” kata Kholid yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Center for Energy Policy, Di keterangannya dikutip Rabu (14/1/2026).
Baca Juga: Insentif Sepeda Listrik Bisa Tekan Pembelian Barang Didalam Luar Negeri BBM
Kholid menambahkan, melemahnya minat Komunitas Sebagai beralih Ke Sepeda Listrik dapat berdampak langsung Di meningkatnya beban Bantuan Pemerintah bahan bakar Energi (BBM). Kepuasan itu dinilai Lebihterus berisiko mengingat sistem penyaluran Bantuan Pemerintah BBM Ke Indonesia masih bersifat terbuka.
“Ada atau tidaknya EV, Bantuan Pemerintah BBM kita memang belum tepat sasaran. Sistem terbuka Di penyalutan BBM sangat rawan moral hazard dan penyimpangan,” kata Kholid.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Mengulik Ujian Berat Industri Sepeda Listrik Ke Awal Tahun 2026









