loading…
Anggota Asosiasi Ketahanan Ketahanan Pangan INKINDO sekaligus Pegiat Asosiasi Pendayagunaan Pertanian dan AEPI
BULOG Memperoleh penugasan Mutakhir: menyalurkan Bantuan Pemerintah kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram (kg) kepada produsen tahu dan tempe. Sebagai tahap pertama volume Bantuan Pemerintah kedelai mencapai 250 ribu ton. Kebutuhan kedelai Sebagai tahu-tempe Disekitar 2,7 juta ton per tahun. Bersama jumlah ini, produksi Di negeri amat kecil: Ke bawah 10%. Sisanya berasal Bersama Perdagangan Masuk Negeri. Baik Bersama Amerika Serikat, Brasil atau Argentina.
Disebut ‘penugasan Mutakhir’ Sebab Mutakhir diputuskan Ke Pertemuan koordinasi Ke Kantor Kementerian Koordinator Ketahanan Pangan, 9 Juni 2026. Berencana tetapi, Untuk BULOG ini sebetulnya bukan hal yang benar-benar Mutakhir. Bersama beras, kedelai adalah salah satu Barang Dagangan Ketahanan Pangan yang pernah dikelola BULOG Dari era Orde Mutakhir. Bedanya, penugasan beras selalu ada alias ajek. Sebagai Alternatif, penugasan kedelai sifatnya kadang-kadang.
Penugasan menyalurkan Bantuan Pemerintah kedelai seperti tahun ini pernah dilakukan BULOG Ke tahun Sebelumnya. Mekanismenya sama: BULOG menggunakan kedelai importir Bersama harga tertentu. Misalnya Rp A/kg. Produsen tahu dan tempe yang membeli kedelai Lewat BULOG membayar Rp A minus Rp2.000/kg. Bantuan Pemerintah Rp2.000/kg ditalangi dahulu Dari BULOG. Produsen tahu-tempe yang Memperoleh Bantuan Pemerintah sudah ada by name by addres. Atas penugasan itu BULOG Memperoleh kompensasi, misal sekian %, Bersama pemerintah.
Pemberian Bantuan Pemerintah Menunjukkan pemerintah proaktif. Dari Pertempuran Ke Timur Di, harga kedelai Ke produsen tahu-tempe naik: Bersama Rp9.000/kg menjadi Rp11.300-an/kg. Fluktuasi Harga dipicu Dari melonjaknya harga kedelai Perdagangan Masuk Negeri Ke pasar dunia, biaya Ekspedisi, dan pelemahan Uang Negara Indonesia. Untuk produsen tahu-tempe, Fluktuasi Harga bahan baku Disekitar 25% itu membuat mereka kelimpungan. Nilainya Ke atas toleransi.
Seperti usaha lainnya, produsen tahu dan tempe perlu kestabilan harga bahan baku. Ketika harga bahan baku tahu dan tempe, yakni kedelai, naik terus-menerus, Justru naik setiap hari, mereka pusing. Cara menaikkan harga jual bisa saja ditempuh. Tapi, seperti usaha skala Dan Menengah lainnya, produsen tahu dan tempe terkendala daya beli konsumen. Konsumen tahu dan tempe amat peka Di harga (price elastic).
Kala harga tahu-tempe naik, permintaan potensial menurun. Opsi lain yang tersedia adalah mengecilkan ukuran jualan. Cara ini tidak jarang berujung Penolakan dan omelan konsumen. Ketika situasi tak tertanggungkan, opsi yang tersedia adalah menutup usaha. Jika itu terjadi Ke banyak produsen tahu-tempe, pengangguran meledak. Tahu-tempe telah menghidupi ratusan ribu rakyat jelata, Bersama petani, produsen tempe-tahu-kecap, pedagang tahu-tempe hingga penjual gorengan pinggir jalan.
Ke masa lalu, Fluktuasi Harga kedelai yang tinggi selalu diikuti Dari Protes mogok produksi produsen tahu-tempe. Mogok produksi setidaknya terjadi 2008, 2010, 2012, 2013, 2015, 2021, dan 2022. Penyebabnya sama: harga kedelai Perdagangan Masuk Negeri naik tinggi. Pemberian Bantuan Pemerintah adalah upaya tidak ingin memutar ulang jarum jam seperti Ke masa lalu: pemerintah Mutakhir merespons Setelahnya ada produsen tahu-tempe mogok produksi.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Tahu-Tempe dan Perdagangan Masuk Negeri Kedelai yang Mematikan











