loading…
Rvalitas sengit Antara China sebagai kekuatan Mutakhir berbasis listrik melawan Amerika Serikat sebagai hegemon hidrokarbon dunia. FOTO/iStock Photo
Ketegangan ini diprediksi menjadi penentu utama arah persaingan kedua raksasa ekonomi tersebut Di beberapa dekade mendatang, terutama Ke Di ambisi Pembaruan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan daya listrik Di jumlah yang sangat besar.
“Gangguan serius Ke pasokan energi Berencana menjadi determinan mendasar Didalam hasil persaingan AS-China Ke masa Di,” demikian kutipan laporan analisis Politik Global energi Internasional yang dirilis Mutakhir-Mutakhir ini dikutip Didalam South China Morning Post, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Bos Raksasa Migas Rusia: AS Untung Besar Ke Balik Penutupan Selat Hormuz
Laporan tersebut menyoroti ketergantungan kedua Negeri Di rantai pasok Internasional masih sangat tinggi Kendati Keputusan energi mereka saling bertolak Di. Guna memenangi Kejuaraan Ilmu Pengetahuan masa Di seperti robotika, drone, dan peralatan militer, kedua Negeri membutuhkan kepastian pasokan listrik, Ke mana AS sendiri masih memerlukan waktu Untuk membangun kapasitas pembangkitan Mutakhir Untuk memenuhi kebutuhan pusat data AI mereka.
AS yang mengukuhkan posisinya sebagai produsen Migas mentah terbesar Sebelum abad Hingga-19 kini mampu memproduksi 13,6 juta barel Migas per hari dan lebih Didalam 30 triliun kaki kubik Sumber Energi per tahun. Sistem domestik Paman Sam sangat bersandar Ke bahan bakar fosil yang memasok hampir 80 persen kebutuhan energi mereka, dikombinasikan Didalam kekuatan armada maritim guna mengamankan jalur perdagangan hidrokarbon Internasional.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Energi Menjadi Medan Konflik Bersenjata AS-China Ke Abad Ini











