Jakarta –
Kerusakan Latihan dapat terjadi Di siapa saja, tanpa memandang usia maupun tingkat Kesejaganan. Risiko ini Meresahkan ketika Olah Raga tidak disesuaikan Didalam kemampuan tubuh dan Situasi medis masing-masing individu.
Ahli Kebugaran Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Hip & Knee, dr. Auliya Akbar, Sp.OT Subsp. PL (K), atau akrab disapa Abay, menegaskan Latihan sangat dianjurkan, termasuk Di usia 35-40 tahun. Akan Tetapi, fase usia tersebut merupakan masa transisi penting yang membutuhkan penyesuaian intensitas dan jenis Latihan.
“Apakah kita usia umur 35-40 sangat dianjurkan Untuk Latihan? Jawabannya iya. Tetapi memang jauh lebih baik kalau memang olahraganya dimulai rutin Dari Sebelumnya umur itu,” ujar Abay Untuk Kegiatan Health Talk ‘Sehat Latihan Tanpa Resiko Kerusakan: Pahami Latihan yang Terbaik Untuk Anda’, Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, kemampuan fisik, daya Konsisten, dan morfologi anatomi tubuh Berencana Merasakan penurunan seiring bertambahnya usia. Maka Itu, menjaga jiwa muda perlu diimbangi Didalam kemampuan fisik yang realistis dan aman.
“Secara kedokteran, secara medis, kemampuan fisik kita pasti Berencana menurun Didalam sendirinya. Enggak ada yang kalau Produk kita dipakai makin lama makin bagus,” jelas Abay.
Ia menekankan, tidak ada kata terlambat Untuk memulai Latihan, termasuk Di usia 35-40 tahun atau Malahan Di atasnya. Akan Tetapi, setiap orang harus menghindari sikap Fear of Missing Out (FOMO) dan tidak memaksakan diri mengikuti tempo orang lain.
“Kalau 35-40 Pada Terbaru mulai Latihan, ya enggak apa-apa. Tetapi memang ada penyesuaian, jangan ikut-ikutan FOMO,” ucap Abay.
Kerusakan Latihan atau sport injury merupakan Kerusakan yang terjadi Pada melakukan Olah Raga tertentu, seperti keseleo, jatuh, salah gerakan, hingga benturan. Keluhan yang paling sering muncul meliputi nyeri, bengkak, kaku, hingga keterbatasan gerak.
“Kerusakan Latihan itu adalah Kerusakan yang terjadi Pada kita melakukan Latihan tertentu. Keluhannya paling sering nyeri, bengkak, kaku, atau susah digerakkan,” tuturnya.
|
Brawijaya Hospital Foto: dok. Qonita/detikcom
|
Abay mengungkapkan, banyak pasien datang Didalam Situasi Kerusakan yang sudah memburuk Lantaran awalnya menganggap keluhan tersebut ringan. Kesadaran berobat sering kali Terbaru muncul Pada Kegiatan sehari-hari terganggu.
“Paling banyak saya ketemu itu pasien yang awalnya menganggap aman. Terbaru datang berobat ketika sudah tidak bisa kerja atau beraktivitas,” ungkapnya.
Abay juga menyoroti kebiasaan sebagian Komunitas yang lebih dulu mencoba Perawatan non-medis Sebelumnya memeriksakan diri Di Ahli Kebugaran. Situasi ini dapat memengaruhi hasil penanganan secara medis.
“Outcome-nya tidak sebagus Didalam Tindak Kejahatan yang fresh, Terbaru kejadian, langsung ditangani,” imbuhnya.
Sebagai langkah awal penanganan Kerusakan ringan, Abay Mengintroduksi prinsip PRICE, yaitu Protection, Rest, Ice, Compression, dan Elevation. Prinsip ini bertujuan membantu tubuh memulihkan diri sekaligus mencegah Kerusakan bertambah parah.
Ia mengingatkan agar Komunitas tidak bersikap terlalu panik, tetapi juga tidak mengabaikan keluhan yang dirasakan. Jika keluhan tidak membaik Untuk dua hingga tiga hari, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
“Boleh panik, itu manusiawi. Tapi jangan terlalu panik dan jangan juga terlalu menganggap enteng,” pesan Abay.
Di Pada Yang Sama, Ahli Kebugaran Spesialis Ortopedi Anak, dr. Muhammad Deryl Ivansyah, Sp.OT, Subsp. A, menjelaskan Kerusakan Latihan juga kerap terjadi Di anak-anak. Kerusakan tersebut tidak selalu berupa patah tulang, tetapi seringkali berupa keseleo.
“Sport injury itu Kerusakan, tapi tidak semua Kerusakan itu terjadi patah. Yang paling sering Di anak-anak adalah keseleo.”
Ia menegaskan bahwa anak yang Merasakan Kerusakan sebaiknya tidak langsung dibawa Di Perawatan alternatif. Penanganan awal yang salah dapat memperburuk Situasi Kerusakan dan mempersulit terapi lanjutan.
“Jangan langsung diurut. Harus didiamkan dulu dan diperiksa,” kata Deryl.
Menurutnya, terdapat tanda bahaya atau red flag yang harus diwaspadai orang tua ketika anak Merasakan Kerusakan. Tanda tersebut meliputi nyeri hebat, pembengkakan, keterbatasan gerak, serta perubahan warna kulit.
“Kalau anak nangis, tidak mau dipegang Di lokasi Kerusakan, dan fungsinya Karena Itu terbatas, itu harus curiga patah sampai terbukti tidak,” terang Deryl.
Ia juga menekankan pentingnya penanganan dini Di Kerusakan anak, mengingat masih adanya lempeng Perkembangan Di tulang. Penanganan yang terlambat berisiko mengganggu Perkembangan dan fungsi jangka panjang.
“Kalau telat lebih Untuk seminggu, biasanya sudah tidak bisa dikembalikan dan harus dioperasi,” tambah Deryl.
Baik Di anak maupun dewasa, pemilihan jenis Latihan harus disesuaikan Didalam Situasi tubuh dan riwayat Kesejaganan. Konsultasi Didalam tenaga medis menjadi langkah penting Untuk mencegah Kerusakan berulang.
“Kita memang harus lihat diri kita sendiri. Kalau tidak tahu cocoknya apa, tanya sama ahlinya,” tutupnya.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kerusakan Latihan Tak Pandang Usia, Pahami Langkah Pra-Penanganan yang Tepat!











